Make your own free website on Tripod.com

  


 Profil
 STAN
 Himasurya
 Arek Suroboyo

 Suplemen
 Artikel
 Info PTK
 Try Out STAN

 Kontak
 E-mail Kami
 Buku Tamu
 Member

 Search

powered by Freefind

lihat sitemap>>>


<< kembali ke depan


artikel

KIAT JIKA AKU
TIDAK LOLOS UMPTN

Kegagalan dalam UMPTN bukan akhir dari segala-galanya, jadi kamu tidak perlu merasa kecewa berat atau stress, toh masih ada cara lain yang mungkin lebih baik dan pas buat kamu, ketika gagal UMPTN. Makanya perlu ada antisipasi jauh hari sebelum ikut UMPTN, ini untuk menghindari agar kamu nggak kecewa berat, kalau kamu memang kecewa, atau agar kamu nggak stress, karena udah punya persiapan yang mantap sebelum UMPTN. Orang yang siap menghadapi UMPTN, bukan saja siap untuk sukses lolos UMPTN tapi juga harus siap untuk tidak lolos UMPTN, ya nggak?

Kegagalan akan jadi arti penting bagi kita, ketika kita menilai kegagalan itu dengan benar. Bahwa kegagalan itu kita harus cari sebab musababnya dimana, kurang belajar, kurang persiapan, kurang hati-hati dan lain sebagainya. Terimalah kegagalan dengan lapang dada, dengan lebih memfokuskan apa yang seharusnya kamu lakukan setelah gagal UMPTN, ok, ikuti ajak kiat-kiat berikut :

Alternatif PTS
Tak perlu terlalu kecewa kalau kamu tak lolos UMPTN, bukankah ada PTS yang kualitasnya hampir sama dengan PTN atau dosen-dosennya juga PTN. Untuk itu perlu pilih dan selidiki mana PTS yang pas buat kamu, kalo bisa sesuai dengan Fakultas dan Jurusan yang udah kamu pilih waktu UMPTN. Perlu diperhatikan juga, jangan asal pilih PTS, banyak PTS yang hanya jual namanya tapi kredibilitasnya tak sebagus namanya, karena nilai mahasiswanya didapat dari bayaran sejumlah uang. PTS yang bagus tidak selalu mahal, tapi biasanya harga menunjukkan kualitas, untuk itu kamu perlu juga lihat alumni-alumni PTS itu bisa bersaing tidak dengan alumni PTN ketik sudah lulus kuliah. Artinya lulusan PTS punya nilai jual yang tinggi karena kualitasnya. Yang penting pilih PTS yang sesuai dengan otak dan ortumu punya uang.

Bagaimana dengan Prodip
Ada salah satu alternatif yang cukup bagus juga kamu pilih yakni program diploma, baik diploma I, II atau III. D-I masa kuliah normalnya satu tahun, ini bisa kamu pergunakan juga untuk mengisi kekosongan sambil menunggu UMPTN tahun depan, tapi diusahakan pilih D-1 yang sesuai dengan bakat atau pilihan waktu mengikuti UMPTN, ini untuk mengantisipasi jika untuk kedua kalinya kamu gagal UMPTN, kamu bisa ambil D-2 atau D-III di program yang sama. Khusus untuk prodip ini memang lulusannya dipersiapkan untuk tenaga terampil, sehingga kalau kamu lulus D-1, memilih kerja usahakanlah kerja yang tidak menggangu kuliahmu, kalau kamu berniat untuk meneruskan kuliah di program yang sama. Atau kalau memang memilih D-3 maka ada PTN yang bisa mentransfer mahasiswa D-3 untuk menjadi S-1, nah itu bisa kamu lakukan jika kamu pandang itu baik bagi kamu.

Perkuat dengan Bimbel
Jika kamu betul-betul hanya pingin masuk PTN, maka pergunakanlah dengan baik waktu 1 tahun itu untuk konsentrasi belajar di Bimbingan Belajar. Atau privat bimbel yang intensif. Penguasaan matematika sangat berguna bagi kamu yang ngebet ikut UMPTN program IPA/IPC tahun depan. Selain sebagai modal untuk mengerjakan matematika, sekaligus juga modal menguasai Fisika. Pilih bimbel yang bener-bener berkualitas, dan yang berpengalaman berhasil meloloskan peserta Bimbel dalam UMPTN. Usahakanlah minta cara penyelesaian soal-soal UMPTN tahun kemarin dengan cara yang tercepat dan termudah. Hal ini untuk mempermudah cara belajar kamu juga supaya kamu nggak begitu sulit memikirkan soal-soal yang akan keluar nantinya.

Kalau Ikut Kursus
Mengambil kursus juga merupakan alternatif lain yang cukup jitu untuk kamu ambil. Misalnya kursus bahasa inggris, untuk membantu kamu nantinya ketika masuk UMPTN karena literature disana banyak berbahasa inggris. Selain itu untuk kamu yang milih program IPA/IPC bisa jadi modal untuk bisa lolos UMPTN tahun depan. Atau kursus yang sesuai dengan bakat dan kemampuan kamu yang penting tidak mengganggu waktu belajar kamu buat persiapan UMPTN tahun depan. Siapa tahu kamu bisa ahli dalam bidang tertentu khan bisa untuk modal masa depan.

Ikut Pesantren
Ikut Pesantren, tidak kalah jitunya pilihan yang boleh kamu pilih. Sambil mempersiapkan UMPTN tahun depan, masuk ke pesantren dulu. Disana kamu bisa dapat gemblengan mental yang islamy, sebelum kamu benar-benar siap menghadapi UMPTN tahun depan. Lagian, yang satu ini bisa buat bekal di akhirat kelak. Kenapa tidak dicoba yang satu ini. Jadi pilih pesantren yang memperbolehkan mondok 1 tahun, atau ikut pesantren-pesantren kilat yang diadakan oleh remas, atau organisasi-organisasi Islam lainnya.

Nah, banyak sebenarnya alternatif yang bisa lakukan, ketika kamu gagal UMPTN. So, nggak perlu stress karenanya, kalau kemudian kamu masih stress karenanya berarti ada something wrong dalam diri kamu, yang ini harus diteliti apa hal itu?

Apakah kuliah itu menentukan segala-galanya? Apakah kita bisa terpandang dan dikatakan berkpribadian kalau kita punya title sarjana S-1? Ataukah jaminan kalau lulusan S-1 itu bisa mudah cari kerja? Jikalau yang kamu cari prestise, harga diri atau title dalam kuliah maka suatu saat jikalau hal itu tidak kamu dapatkan pasti kamu akan kecewa.

Faktanya justru ada yang kebalikan, orang yang tidak lulus S-1 tapi kemampuanya bisa setara dengan sarjana dan mendapat kehormatan lebih dari yang sarjana dan kerjanya tidak seburuk kalo memang dia lulusan S-1. Tapi kalau kamu kuliah untuk menuntut ilmu, apakah harus lewat PTN? Apakah hanya lewat PTN kamu akan memperoleh ilmu yang sungguh-sunguh ilmu, yang akan mengantarkanmu pada kebahagiaan hidup yang hakiki? Harap kamu ketahui, banyak lho orang yang berilmu tapi ia tidak pernah mengenal bangku PTN atau universitas apa pun. Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk menjadi orang yang berilmu, yang jelas mantapkan keikhlasanmu untuk kuliah karena menuntut ilmu. Mudah-mudahan Allah memasukkan kamu ke dalam golongan yang "Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang berilmu beberapat derajat (Al Mujadalah 11) .

Terinspirasi Majalah Permata 18/V Juni 1997